follow me via twitter

Tampilkan postingan dengan label Apologetika. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Apologetika. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 Mei 2013

SESAT PIKIR - MASALAH LOGIKA

SESAT PIKIR - MASALAH LOGIKA

SESAT PIKIR – MASALAH LOGIKA adalah masalah yang sering ditemui. Ada baiknya jika artikel ini dibaca dan dipaami tentunya. silahkan download dan baca di sini
»»  Lanjutkan Membaca...........

Selasa, 21 Februari 2012

PENEBUSAN YANG TERBATAS


PENEBUSAN YANG TERBATAS

Kadang-kadang perbedaan doktrin teologi Reformasi diringkaskan sesuai dengan singkatan T-U-L-I-P. TULIP merupakan singkatan dari:

T         : Total Depravity (Kerusakan Secara Total)
U         : Unconditional Election (Pemilihan Yang Tidak Bersyarat)
L          : Limited Atonement (Penebusan Yang Terbatas)
I           : Irresistible Grace (Anugerah Yang Tidak Dapat Ditolak)
P         : Perseverance of the Saints (Ketekunan Orang-Orang Kudus)

Singkatan ini memang berguna untuk menolong kita mengingatnya, tetapi singkatan ini juga dapat membuat orang bingung atau salah mengerti doktrin-doktrin itu, sebab kata-kata itu dipaksakan supaya cocok dengan singkatan yang ada. Paling tidak demikian halnya dalam kasus butir yang ketiga, yaitu “Penebusan Yang Terbatass”. Banyak orang yang menyebut dirinya “empat butir” Calvinisme, dimana mereka menyetujui semuanya kecuali Penebusan Yang Terbatas. Mereka menyingkirkan huruf L dari TULIP.
Saya (baca: R. C. Sproul; demikian juga diberlakukan ketika membaca kata yang sama dalam tulisan ini, karena memang tulisan ini adalah copyan murni dari tulisannya sebagaimana keterangan yang tertulis di akhir tulisan ini) memilih memakai istilah Penebusan Yang Pasti (Definite) dari pada menggunakan istilah Penebusan Terbatas (meskipun membuat TULIP menjadi TUDIP).
Siapa saja yang tidak termasuk universalis akan bersedia untuk sepakat pada efek dari karya Kristus di atas kayu salib  itu hanya terbatas pada mereka yang percaya saja. Dengan kata lain, penebusan Kristus tidak berlaku bagi orang yang tidak percaya. Tidak setiap orang diselamatkan melalui kematian-Nya. Setiap orang juga setuju bahwa akibat dari kematian Kristus adalah cukup untuk membayar semua dosa-dosa umat manusia. Ada sebagian orang yang menyatakannya sebagai berikut: Penebusan Kristus cukup untuk semua orang, tetapi efisiensi hanya bagi sebagian orang.
Namun hal ini tidak menjawab inti pertanyaan dari penebusan yang pasti. Mereka yang menyangkali Penebusan Yang Pasti bersikeras menyatakan bahwa karya penebusan Kristus telah dirancang oleh untuk menebus dosa-dosa setiap orang di dunia. Hal itu memungkinkan keselamatan untuk setiap orang, tetapi tidak menjamin keselamatan bagi siapapun. Jadi, hal itu dirancang sebagai tidak terbatas dan tidak pasti.
Pandangan Reformed berpegang pada penebusan Kristus dirancang dan dimaksudkan hanya untuk orang pilihan. Kristus menyerahkan nyawa-Nya hanya bagi domba-domba-Nya. Lebih lanjut dijelaskan bahwa penebusan menjamin keselamatan bagi semua orang pilihan. Penebusan bersifat aktual, bukan hanya bersifat potensial, bagi karya penebusan. Menurut pandangan ini rancangan Allah bagi penebusan tidak mungkin digagalkan oleh siapapun atau apapun. Tujuan Allah di dalam keselamatan merupakan suatu hal yang pasti.
Para teolog Reformed berbeda pendapat di dalam menjawab pertanyaan penyajian penebusan bagi umat manusia. Sebagian bersikeras bahwa Injil itu bersifat universal. Salib dan manfaat-manfaatnya disajikan kepada barangsiapa yang percaya. Sebagian yang lain bersikeras bahwa konsep keuniversalan akan menyelewengkan pengertian dan berkaitan dengan permainan kata. Pada faktanya hanya orang pilihan yang akan percaya, maka di dalam realitas tawaran ini hanyalah begi mereka. Manfaat dari penebusan Kristus tidak pernah ditawarkan oleh Allah kepada orang yang tidak akan bertobat atau orang yang tidak percaya. Sebab kepercayaan dan pertobatan merupakan kondisi yang hanya dapat dicapai oleh orang-orang pilihan, maka pada akhirnya penebusan hanya ditawarkan pada mereka saja.
Yohanes menulis: “Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.” (1 Yohanes 2:2). Dibandingkan dengan ayat-ayat lain, teks ini lebih banyak dikutip sebagai bukti melawan penebusan yang pasti. Secara sekilas kelihatannya merupakan suatu pernyataan bahwa kematian Kristus dimaksudkan bagi setiap orang (seluruh dunia). Namun, apabila hal itu diartikan secara demikian, maka teks itu berbicara sebagai bukti yang melebihi daripada apa yang mau dibuktikan oleh orang-orang non-Reformed. Ayat ini menjadi bukti untuk doktrin universalisme. Apabila Kristus memang memuaskan tuntutan Allah untuk penghukuman bagi dosa-dosa setiap orang, maka jelaslah bahwa setiap orang akan diselamatkan. Apabila Allah menghapuskan dosa-dosa dan kita sudah ditebus, maka Dia tidaklah adil. Apabila teks itu diartikan sebagai setiap dosa manusia telah ditebus berdasarkan kondisi tertentu (bergantung pada iman dan dan pertobatan), maka kita kembali pada pertanyaan yang semula, yaitu hanya orang pilihan yang dapat memenuhi persyaratan tersebut.
Cara lain untuk melihat teks ini adalah untuk melihat kontras antara dosa-dosa kita dengan mereka dari seluruh dunia. Siapakah orang-orang yang termasuk dalam kita ? Apabila Yohanes berbicara hanya pada saudara-saudara seimannya, maka tefsiran yang terdahululah yang benar. Tetapi hanya itu kemungkinan arti dari kita ?
Di dalam Perjanjian Baru sering kali dicatat tentang kontras antara keselamatan yang dinikmati oleh orang-orang non-Yahudi. Hal krusial dari Injil adalah Injil tidak hanya terbatas bagi orang Yahudi, tetapi bagi semua umat manusia di dunia ini, yaitu orang dari berbagai bangsa dan berbagai suku. Allah mengasihi seluruh dunia ini, tetapi Dia tidak menyelamatkan seluruh dunia. Dia menyelamatkan orang-orang dari berbagai penjuru dunia. Di dalam teks ini, Yohanes mungkin hanya berkata bahwa Kristus tidak hanya menebus dosa-dosa kita (orang-orang percaya Yahudi), tetapi juga orang-orang pilihan yang terdapat diseluruh dunia.
Pada kasus yang manapun juga, rencana Allah telah ditentukan sebelum ada orang di dunia ini. Penebusan Kristus bukan merupakan pemikiran Allah yang baru dipikirkan kemudian. Tujuan Allah di dalam kematian  Kristus telah ditetapkan sebelum dunia dijadikan. Rancangan ini bukan merupakan suatu perkiraan tetapi dibuat berdasarkan rencana dan tujuan yang tertentu, dimana Allah berdaulat untuk merealisasikannya. Semua bagi siapa Kristus telah mati, telah ditebus melalui tindakan pengorbanan-Nya.

Ringkasan:

1.     Penebusan yang pasti menggantikan istilah penebusan yang terbatas di dalam singkatan TULIP.
2.     Penebusan yang pasti menunjuk pada ruang lingkup penebusan Allah dan tujuan dari salib.
3.     Semua yang tidak termasuk penganut universalisme setuju bahwa penebusan Kristus adalah cukup untuk semua orang, tetapi hanya akan efektif pada orang-orang percaya.
4.     Penebusan Kristus merupakan suatu pemuasan yang aktual bagi dosa, bukan suatu pemuasan yang hanya memungkinkan atau bersyarat.
5.     Penebusan dalam arti yang luas ditawarkan pada semua orang; di dalam pengertian yang sempit, penebusan hanya ditawarkan pada orang-orang pilihan.
6.     Pengajaran Yohanes tentang Kristus mati bagi dosa-dosa seluruh dunia berarti bahwa orang-orang pilihan itu tidak hanya terbatas pada Israel saja, tetapi juga terdapat diseluruh pelosok dunia.

Ayat-Ayat Alkitab Untuk Bahan Refleksi:

1.     Matius 1:21
2.     Yohanes 3:16
3.     Yohanes 10:27-30
4.     Yohanes 17:9-12
5.     Kisah Para Rasul 20:28
6.     Roma 8:30

Sumber: R. C. Sproul, Kebenaran-Kebenaran Dasar Iman Kristen (Malang: SAAT Malang, cet. ke-7, 2008), 235-238.

Baca dan miliki artikel ini yang dibuat dalam bentuk pdf, baca / download disini
»»  Lanjutkan Membaca...........

Senin, 13 Februari 2012

YAKIN KEPADA DIRI SENDIRI



YAKINAN KEPADA DIRI SENDIRI
YAKOBUS 4:13-17[1]
Siapa yang tidak mengenal Mario Teguh ?
Banyak orang berpendapat bahwa keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri adalah sesuatu yang sangat penting untuk bisa sukses, baik dalam hal bekerja, maupun study, olah raga, mencari pacar (termasuk juga dalam melayani Tuhan) dsb.
Apa Kata Alkitab (Kitab Yakobus) terhadap keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri:
Ay 13 menunjukkan orang yang mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri.
Adanya keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri itu menyebabkan orang itu bisa memastikan akan:
  • Kapan memulai sesuatu (‘hari ini atau besok’).
  • Tujuan (‘kota anu’).
  • Waktu yang diperlukan (‘1 tahun’).
  • Jenis usaha / kegiatan (‘berdagang’).
  • Hasil akhir (‘akan mendapat untung’).
Apakah Yakobus / Kitab Suci memuji orang itu karena keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri yang dimilikinya?
Baca ayat 16! Kata ‘salah’ (ay 16) dalam bahasa yunaninya ponhros diterjemahkan evil (= jahat, buruk). Jadi jelas bahwa Yakobus bukannya memuji tetapi sebaliknya bahkan mengecam orang itu.
Dan yang dikecam Yakobus bukanlah:
·         Pekerjaan orang itu / berdagang / keinginan untuk mendapat untung. Ini tidak salah!
·         Perencanaan untuk masa depan.
Contoh yang salah dalam penginterpretasian Firman Tuhan:
Matius 6:25-34[2], bahwa kita tidak boleh merencanakan masa depan. Perencanaan dianggap sebagai bukti bahwa kita kurang beriman dan itu adalah dosa.
Tetapi ajaran semacam ini adalah salah kalau dibandingkan dengan  Kejadian 41:34-36[3] atau Amsal 6:6-8[4]. Jelas bahwa perencanaan untuk masa depan itu tidak bertentangan dengan iman, tidak salah, dan bahkan harus dilakukan.
Yang dikecam Yakobus adalah keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri orang itu.
Sisi buruk dari keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri:
1.      Keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri menyebabkan seseorang berusaha tanpa bimbingan ataupun pertolongan Tuhan.
Lihat ay 13 lagi. Orang itu sedikitpun tidak berdoa untuk meminta pimpinan Tuhan ataupun untuk meminta penyertaan, pertolongan dan berkat Tuhan. Ia yakin dirinya sendiri bisa melakukannya dengan sukses tanpa Tuhan.
Penerapan: Mungkin sekali saudara tetap berdoa untuk meminta pimpinan dan pertolongan Tuhan sekalipun saudara adalah orang yang mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri. Tetapi kalau demikian halnya, saya percaya bahwa doa saudara itu adalah doa yang tidak sungguh-sungguh dijiwai! Saudara mungkin berdoa hanya seba­gai rutinitas, kebiasaan, kewajiban dsb. Dengan demikian pada hakekatnya saudara tidak berbeda dengan orang yang diceritakan oleh Yakobus ini.
2.      Merasa tahu, padahal tidak satu orangpun yang tahu apa yang terjadi besok (ay 14a  bdk. Amsal 27:1[5]).
Ay 13 kontras dengan ay 14! Ay 13 menunjukkan bahwa orang itu merasa pasti akan segala sesuatu. Tetapi ay 14 berkata ‘kamu tidak tahu’. Ay 13 mengatakan ‘satu tahun’, tetapi ay 14 mengatakan ‘besok’.
Kalau saudara begitu buta tentang apa yang akan terjadi besok, bagaimana saudara bisa mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri? Bagaimana kalau besok saudara sakit, tertimpa kecelakaan / musibah, kerampokan, atau bahkan mati? Apakah itu tidak menggagalkan rencana saudara?
3.      Merasa kuat, padahal manusia adalah makhluk yang lemah (ay 14b).
Ay 14b itu menunjukkan bahwa diri kita bersifat fana / sementara dan itu menunjukkan bahwa kita itu lemah. Jadi bagaimana kita bisa mempercayai diri sendiri? Kalau kita memang lemah, lalu bagaimana kita bisa menaruh keyakinan / kepercayaan kepada sesuatu / seseorang yang lemah?
Dalam Mark 14:29-31[6] terlihat bahwa Petrus mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri yang besar sekali. Tetapi hal itu justru membuat ia jatuh sangat dalam dengan menyangkal Yesus sebanyak 3 x sambil bersumpah dan mengutuk!
Kalau saudara terus hidup dalam keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri, maka ada saatnya Tuhan akan menghajar saudara dengan kejatuhan / kegagalan / penderitaan supaya saudara sadar akan kelemahan saudara!
4.      Kepercayaan terhadap diri sendiri adalah suatu kesombongan (ay 16).
Kata ‘congkak’ dalam ay 16, dalam bahasa Yunaninya adalah alazoneia. Kata ini biasanya ditujukan kepada penjual obat. Jadi orang yang mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri disamakan seperti penjual obat yang selalu menyombong­kan / membual tentang obatnya (bdk. Yoh 15:5).
Sikap kekristenan terhadap keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri:
1)   Berhenti, untuk bisa berpikir / merenung.
Kata-kata ‘jadi sekarang’ pada awal ay 13, dalam bahasa Yunaninya adalah age nun. Ini adalah suatu ungkapan yang menyuruh berhenti untuk berpikir dan merenung. Tanpa itu kita akan terus hidup dalam dosa keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri itu tanpa kita sadari.
Biasanya tiap orang (bahkan yang rendah diri sekalipun) mempunyai segi-segi kehidupan tertentu dimana ia merasa yakin akan dirinya sendiri.
Dalam ay 13 Yakobus menggunakan contoh tentang orang yang mau berdagang karena orang-orang Yahudi banyak yang berda­gang. Itu memang keahlian mereka dan karena itu dalam hal itu mereka punya keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri. Karena itu hati-hatilah dengan ‘kekuatan’ saudara! Itu adalah tempat dimana saudara mudah jatuh ke dalam dosa keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri (bdk. Simson dalam Hak 15:16-19 dan Hak 16:20).
Penerapan: Karena itu, berhentilah dari kegiatan-kegiatan saudara, renungkan tempat-tempat dimana saudara mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri. Lalu akuilah hal itu sebagai dosa, mintalah ampun kepada Tuhan dan mintalah supaya Ia mengubah saudara!
2)   Ingat dan sadarilah bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi kalau Allah menghendakinya (ay 15). ‘Kehendak Allah’ di sini menunjuk pada rencana / ketentuan Allah yang kekal.
Dan ay 15 itu mengatakan bahwa baik hidup kita maupun tindakan / perbuatan kita tergantung sepenuhnya pada kehen­dak Allah itu. Hanya kalau Allah menghendaki barulah kita bisa hidup dan berbuat ini dan itu (bdk. Kis 17:28; I Kor 8:6; Maz 31:16; 127:1; Ams 16:1, 9).
Kalau kita selalu menyadari hal itu maka kita tidak akan punya keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri.
Pertanyaan: Haruskah kita betul-betul mengucapkan kata-kata ‘Jika Tuhan menghendakinya’ seperti dalam ay 15? Paulus sering mengucapkan kata-kata seperti itu (Kis 18:21; Ro 1:10; I Kor 4:19; 16:7), tetapi di tempat lain Paulus mengucapkannya secara implicit (Ro 15:24). Yohanes juga mengucapkannya secara implicit (III Yoh 10).
Jadi boleh saja kita mengucapkan kata-kata seperti itu asal tidak sekedar menjadi kebiasaan. Tetapi yang penting bukan­lah mengucapkan kata-kata itu, tetapi kesadaran dalam hati dan pikiran kita bahwa segala sesuatu hanya bisa terjadi kalau itu adalah kehendak Tuhan.
3)   Ubahlah keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri itu menjadi keyakinan / kepercayaan kepada ALLAH.
Kata “sebenarnya” dalam bahasa Yunaninya anti, arti yang lebih pas “sebagai gantinya” atau “sebaliknya”.
Kalau Kitab Suci melarang kita mempunyai keyakinan / kepercayaan kepada diri sendiri, itu tidak berarti bahwa semua orang kristen harus menjadi orang yang rendah diri, pesimis dan selalu ragu-ragu / kuatir. Ini tidak beriman! Kita harus melakukan segala sesuatu dengan yakin, tetapi keyakinan itu tidak boleh kita letak­kan pada diri kita sendiri, tetapi kepada Tuhan. Ini terli­hat dari ay 15 yang berbunyi ‘jika Tuhan menghendakinya....’ (bdk. Fil 4:13).
Tetapi kita tidak akan bisa mempunyai keyakinan seperti ini kecuali kalau kita yakin bahwa apa yang kita lakukan itu sesuai dengan kehendak Tuhan.
Contoh: Daud dalam I Sam 17:31-47. Ia yakin bahwa Tuhan menghendakinya untuk berkelahi melawan Goliat dan pada waktu ia maju untuk berkelahi, ia yakin ia akan menang. Tetapi ia meletakkan keyakinananya kepada Tuhan, bukan pada dirinya sendiri.
Contoh lain: Yonatan dalam I Sam 14:6-15.
Hal tersebut di atas harus dilakukan. Kalau tidak dilakukan ayat 17 mengatakan itu adalah dosa! Dosa karena tidak melakukan apa yang baik.
BERGANTUNGLAH[7] SEPENUHNYA KEPADA TUHAN[8].


[1] Yakobus 4:13-17: “Jadi sekarang, hai kamu yang berkata: "Hari ini atau besok kami berangkat ke kota anu, dan di sana kami akan tinggal setahun dan berdagang serta mendapat untung", sedang kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap. Sebenarnya kamu harus berkata: "Jika Tuhan menghendakinya, kami akan hidup dan berbuat ini dan itu." Tetapi sekarang kamu memegahkan diri dalam congkakmu, dan semua kemegahan yang demikian adalah salah. Jadi jika seorang tahu bagaimana ia harus berbuat baik, tetapi ia tidak melakukannya, ia berdosa.
[2] Matius 6:25-34:  "Karena itu Aku berkata kepadamu: Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian? Pandanglah burung-burung di langit, yang tidak menabur dan tidak menuai dan tidak mengumpulkan bekal dalam lumbung, namun diberi makan oleh Bapamu yang di sorga. Bukankah kamu jauh melebihi burung-burung itu? Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya? Dan mengapa kamu kuatir akan pakaian? Perhatikanlah bunga bakung di ladang, yang tumbuh tanpa bekerja dan tanpa memintal, namun Aku berkata kepadamu: Salomo dalam segala kemegahannya pun tidak berpakaian seindah salah satu dari bunga itu. Jadi jika demikian Allah mendandani rumput di ladang, yang hari ini ada dan besok dibuang ke dalam api, tidakkah Ia akan terlebih lagi mendandani kamu, hai orang yang kurang percaya? Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu. Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri. Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari."
[3] Kejadian 41:34-36: “Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir. Mereka harus mengumpulkan segala bahan makanan dalam tahun-tahun baik yang akan datang ini dan, di bawah kuasa tuanku Firaun, menimbun gandum di kota-kota sebagai bahan makanan, serta menyimpannya. Demikianlah segala bahan makanan itu menjadi persediaan untuk negeri ini dalam ketujuh tahun kelaparan yang akan terjadi di tanah Mesir, supaya negeri ini jangan binasa karena kelaparan itu."
[4] Amsal 6:6-8: “Hai pemalas, pergilah kepada semut, perhatikanlah lakunya dan jadilah bijak: biarpun tidak ada pemimpinnya, pengaturnya atau penguasanya, ia menyediakan rotinya di musim panas, dan mengumpulkan makanannya pada waktu panen.
[5] Amsal 27:1 Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.
[6] Markus 14:29-31 Kata Petrus kepada-Nya: "Biarpun mereka semua tergoncang imannya, aku tidak." Lalu kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya pada hari ini, malam ini juga, sebelum ayam berkokok dua kali, engkau telah menyangkal Aku tiga kali." Tetapi dengan lebih bersungguh-sungguh Petrus berkata: "Sekalipun aku harus mati bersama-sama Engkau, aku takkan menyangkal Engkau." Semua yang lain pun berkata demikian juga.
[7] Ibarat seorang perokok kalau tidak merokok akan stress berat.
[8] Baca Yeremia 17:7-8: “Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.
»»  Lanjutkan Membaca...........

Selasa, 13 Desember 2011

“SEMUA AGAMA BAlK. TIDAK MASALAH MANA YANG ANDA PERCAYA”

“SEMUA AGAMA BAlK. TIDAK MASALAH MANA YANG ANDA PERCAYA”
Amerika adalah negara kosmopolitan. Penduduk dan berbagai macam etnis dan latan belakang agama berkumpul untuk membentuk satu bangsa—e pluribusunum, dari banyak menjadi satu. Pada inti rasa persatuan nasional mereka terdapat prinsip penting toleransi agama.
Berdasarkan prinsip toleransi agama ini, semua agama dijamin mendapatkan kebebasan ekspresi dan perlakuan yang sama berdasarkan hukum. Tidak satu agama pun dapat menyatakan memiliki hak hukum eksklusif dan kekuasaan atas pemerintahan. Pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan keinginan dan pelopor kemerdekaannya agar tidak ada agama nasional yang berkuasa.” Dengan demikian, Amerika tidak memiliki gereja negara yang menikmati hak hukum istimewa.
Berdasarkan prinsip toleransi ini timbul gagasan bahwa tidak ada agama yang dapat menyatakan kebenaran secara eksklusif. Walaupun konsep tentang toleransi agama berdasarkan hukum tidak mengatakan apapun mengenai abash tidaknya pernyataan yang benar, banyak orang menarik kesimpulan bahwa toleransi yang seimbang berarti keabsahan yang seimbang. Dengan demikian, pada saat orang Kristen atau pendukung agama apapun mengungkapkan pernyataan yang bersifat eksklusif, pernyataan mereka itu sering kali disambut dengan rasa terkejut atau marah terhadap pemikiran yang sangat sempit itu. Membuat pernyataan agama yang eksklusif berarti menentang nasionalisme. Ini sama dengan menentang olahraga, makanan, dan hal-hal yang bersifat nasional lainnya.
Pada tahun enam puluhan, mengacungkan jari manis bukan hanya merupakan simbol tim olahraga favorite nomor satu, tetapijuga isyarat populer dan para anggota “gerakan Yesus” bahwa hanya ada “satu jalan” menuju Allah, yaitu jalan Kristus. Semangat dan umat Yesus mendapatkan perlawanan dan permusuhan yang besar pada saat itu.
Saat paling memalukan yang pernah saya alami terjadi dikelas bahasa Inggris tingkat satu di perguruan tinggi. Saya mengalami penghinaan yang menyakitkan di depan umum. Dosennya adalah seorang wartawati perang yang terang-terangan menunjukkan permusuhan terhadap kekristenan. Pada pertengahan sebuah pelajaran ia memandang saya dan berkata, “Tuan Sproul, apakah Anda percaya bahwa Yesus Kristus merupakan satu-satunya jalan menuju Allah?” Saya merasa sesak karena desakan pertanyaannya dan menyadari bahwa setiap mata dalam ruangan itu menatap saya. Otak saya berlomba mencari jalan untuk lolos dari dilema saya. Saya tahu jika saya mengatakan ya mereka akan marah. Pada saat yang bersamaan, saya tahu jika saya mengatakan tidak saya akan mengkhianati Kristus. Akhirnya, saya menggumam hampir tak terdengar, “Ya, saya percaya.” Dosen saya menunjukkan kegeraman yang luar biasa. la berkata di depan seluruh kelas, “lnilah pernyataan paling picik, keras kepala, dan sombong yang pernah saya dengar. Anda pasti sangat egois jika Anda percaya bahwa hanya agama Andalah satu-satunya jalan.” Saya tidak memberikan jawaban, tetapi menelungkup dengan lemas di kursi saya.
Setelah kuliah, saya berbicara dengan dosen saya secara pribadi. Dalam pembicaraan tersebut, saya berusaha untuk menjelaskan kepadanya mengapa saya percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan. Saya bertanya kepadanya apakah dia berpikir bahwa paling tidak secara teoritis Kristus mungkin merupakan salah satu jalan menuju Allah. la menyetujui kemungkinan tersebut. Saya bertanya apakah tanpa sikap picik atau keras kepala seseorang bisa percaya bahwa Yesus adalah Allah. Walaupun la tidak percaya pada Ketuhanan Kristus, ia mengakui bahwa sesungguhnya orang dapat mempercayai hal tersebut tanpa sikap keras kepala. Kemudian saya menjelaskan kepadanya bahwa saya percaya Kristus adalah satu-satunya jalan menuju Allah karena Kristus sendiri yang mengajarkan hal tersebut, Saya mengingatkannya bahwaYesus berkata, “Akulah jalan, dan kebenaran, dan hidup; tidak seorang pun sampai kepada Bapa kecuali melalui Aku” (Yohanes 14:6). Saya juga menjelaskan bahwa Perjanjian Baru menyebut Kristus sebagai “satu-satunya anak” Allah, dan bahwa “tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang oleh-Nya kita dapat diselamatkan” (Lihat Kisah Para Rasul 4:12). Saya berkata kepadanya, “Dapatkah ibu mengerti bahwa saya terdesak antara kesetiaan kepada Kristus dan semangat pluralisme modern?” Saya berkata, “Dapatkah ibu mengerti bahwa saya dapat mempercayai keunikan Kristus karena Ialah yang mengajarkannya? Jika saya percaya bahwa Kristus adalah satu-satunya jalan karena saya merasa yakin bahwa jalan saya adalah satu-satunya jalan, barulah itu merupakan kesombongan dan egoisme.” Akhirnya ia mengakui bahwa mungkin bagi seseorang untuk percaya pada keunikan Kristus tanpa sikap sombong, dan dengan tulus ia meminta maaf kepada saya. Walaupun demikian, ia melanjutkan dengan mengajukan pertanyaan yang lebih serius dibandingkan masalah kesombongan. la berkata, “Bagaimana mungkin kamu percaya pada Allah yang hanya menyediakan satu jalan menuju diri-Nya? Tidakkah Allah berpikiran sempit jika la membatasi penebusan pada satu Juruselamat dan satu iman?.
Bukankah Semua Agama Pada Dasarnya Sama ?
Pada analisis terakhir, inilah masalah yang harus dihadapi: Apakah Allah berpikiran sangat sempit sehingga Ia hanya memberikan satu jalan penebusan? Alasan kita mempergumulkan masalah ini secara sangat mendalam antara lain adalah dampak dan hasil pendekatan abad kesembilan belas terhadap studi perbandingan agama. Pada abad kesembilan belas para ahli melakukan usaha bersama untuk menyelidiki dengan teliti ciri-ciri yang jelas dan agama-agama utama di dunia. “Kata yang didengungkan” pada saat itu adalah “intisari”. Banyak studi agama yang serius diterbitkan, yang memiliki judul-judul seperti The Essence of Religion (IntisariAgama) atau The Essence of Christianity (Intisari Kekristenan). Buku-buku ini mencerminkan usaha untuk sampai pada inti kebenaran agama yang mendasar dan terdapat pada semua agama.
Agama sering kali diturunkan nilainya dengan menyebutkan unsur terendah yang sama. Sering kali intisari dan agama ditunjukkan melalui kalimat “kebapaan Allah yang universal dan persaudaraan manusia yang universal”. Dengan demikian kita lihat bahwa pada intinya semua agama benjuang demi tujuan yang sama. Bentuk luar dan keyakinan dan kebiasaan agamaberbeda dari satu budaya ke budaya lainnya, tetapi tujuan mereka pada dasarnya sama. Dengan demikian, jika semua agama pada dasarnya sama, tidak satu agama pun dapat membuat pernyataan eksklusif mengenai keabsahannya.
Dan pencarian akan intisari agama inilah timbul “analo gigunung” yang terkenal dan populer saat ini. Analogi gunung ini menggambarkan Allah di puncak gunung dan manusia di kaki gunung. Kisah agama adalah kisah tentang usaha manusia untuk berjalan dan kaki gunung menuju puncak persekutuan dan keharmonisan dengan Allah. Gunung itu memiliki banyak jalan. Beberapa jalan menuju puncak gunung melalui jalur yang sangat langsung. Jalan lainnya berputar-putar melingkari gunung, tetapi pada akhirnya mencapai puncaknya. Dengan demikian, menurut para penganjur analogi ini semua jalan agama walaupun berbeda jalannya, pada akhirnya akan sampai di tempat yang sama.
Dan keyakinan bahwa semua jalan menuju kepada Allah, timbullah banyak gerakan oikumene, usaha mempersatukan agama, dan bahkan agama-agama baru seperti Bahai yang berusaha melakukan penggabungan dan semua agama dunia menjadi satu agama yang baru.
Saya pernah bercakap-cakap dengan seorang imam Bahai. la mengatakan kepada saya bahwa semua agama sama benarnya. Saya mulai mengajukan pertanyaan kepadanya mengenai konflik antara agama Islam dan Budha, Konfusianisme dan Yudaisme, dan antara kekristenan dengan Taoisme. la menjawab ia tidak mengetahui apapun tentang Islam, Yudaisme atau yang lainnya, tetapi ia mengatakan semuanya sama. Saya bertanya kepadanya bagaimana mungkin seseorang dapat mengatakan semua agama itu sama jika ia tidak memiliki pengetahuan tentang apa yang diakui atau disangkal oleh agama-agama tersebut. Bagaimana mungkin Budhisme benar jika ia menyangkal adanya Allah yang bersifat pribadi dan pada saat yang bersamaan kekristenan juga benar padahal kekristenan itu menegaskan adanya Allah yang bersifat pribadi? Mungkinkah ada Allah yang bersifat pribadi dan Allah yang tidak bersifat pribadi pada saat yang sama dan dalam hubungan yang sama? Mungkinkah Yudaisme Ortodoks yang menyangkal hidup setelah kematian benar dan kekristenan yang menyatakan adanya hidup setelah kematian juga benar? Mungkinkah agama Islam klasik yang mendukung pembunuhan orang kafir memiliki etika yang benar dan pada saat yang bersamaan etika Kristen untuk mengasihi musuh juga sama benarnya?
Hanya ada dua cara untuk mempertahankan absahnya semua agama. Pertama, dengan mengabaikan kontradiksi yang jelas antara agama-agama tersebut dan bersikap tidak rasional; kedua, dengan menganggap kontradiksi yang ada sebagai masalah yang tidak penting. Pendekatan yang kedua melibatkan kita dengan proses reduksionisme yang sistematis. Reduksionisme menghilangkan dari masing-masing agama unsur-unsur yang dianggap vital oleh para pengikut agama itu sendiri dan mengurangi nilai agama menuju persamaan yang bersifat umum. Perbedaan antar agama dikaburkan dan diperlemah untuk mendukung terjadinya perdamaian dalam agama.
Mengapa reduksionisme semacam ini terjadi? Barangkali ada banyak faktor yang memotivasi hal ini. Tentu saja salah satu faktor yang paling kuat adalah keinginan untuk mengakhiri kontroversi agama dan pergolakan yang sering ditimbulkannya. Perbedaan dalam keyakinan agama telah berulang kali menimbulkan perselisihan yang sengit antara manusia, perpecahan dalam keluarga, penganiayaan agama yang menggunakan kekerasan dan dalam banyak kasus bahkan terjadinya perang. Dengan demikian, jika kita secara universal dapat mencapai inti agama, barangkali kita dapat mengakhiri perselisihan yang menelan banyak korban. Tujuannya adalah perdamaian. Kita harus membayarnya dengan mengorbankan kebenaran.
Jika agama membahas masalah-masalah yang sangat pokok, tidak mengherankan perdebatan agama menimbulkan banyak emosi. Tetapi jika kita tertarik pada kebenaran, kita tidak mungkin dapat menemukan kebenaran tersebut dengan menyangkal perbedaan yang nyata dan pernyataan-pernyataan kebenaran. Damai yang dihasilkan melalui reduksionisme adalah damai yang palsu dan bersifat daging. Kita ingat nabi-nabi palsu Israel yang dalam keputusasaan mereka untuk menghindari konflik berteriak “Damai, damai”, padahal tidak ada damai. Ratapan Yeremia tetap relevan, “Mereka mengobati luka putri umat-Ku dengan memandangnya ringan” (lihat Yeremia 8:11).
Berusaha menciptakan suasana perdebatan agama yang ditandai kasih merupakan persoalan tersendiri. Mengatakan bahwa masalah yang diperdebatkan tidaklah penting merupakan persoalan lain. Melindungi hak setiap pemeluk agama untuk dapat mengikuti suara hati nuraninya tanpa rasa takut akan dianiaya merupakan satu persoalan; tetapi mengatakan bahwa pandangan yang bertentangan sama-sama benar merupakan persoalan lain. Kita harus dapat melihat perbedaan antara toleransi yang sama rata berdasarkan hukum dan keabsahan yang sama berdasarkan kebenaran.
Mengapa Allah Berpandangan Sangat Sempit?
Tetapi, kita masih harus menghadapi masalah Allah yangberpandangan sempit, yang hanya memberikan satu jalan penebusan. Apakah ini berarti bahwa manusia yang hidup dalam budaya di mana agama itu ada memiliki keuntungan yang pasti atas manusia yang hidup dalam budaya lainnya? (Makna yang lebih luas dan pertanyaan ini sangat penting sehingga saya menyediakan satu bab khusus untuk membahas mengenai orang-orang yang tidak pernah mendengar tentang Yesus Kristus). Tetapi mari kita teliti lebih dalam masalah Allah yang berpandangan sempit dan hanya memberikan satu jalan penebusan ini. Kita ingat kata-kata Yesus, “Karena lebarlah pintu dan luaslah jalan yang menuju kepada kebinasaan, dan banyak orang yang masuk melaluinya; karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya” (Lihat Matius 7:13). Allah macam apakah yang menyediakan pintu yang begitu sempit? Pertanyaan di atas mengandung tuduhan yang serius; Allah belum berbuat banyak untuk memberikan penebusan bagi umat manusia.
Mari kita teliti tuduhan ini dan perspektif hipotetis. Kita asumsikan bahwa ada Allah yang kudus dan benar. Kita asumsikan Allah berdasarkan kehendak bebas menciptakan manusia dan memberikan karunia kehidupan kepada manusia itu. Kita anggap Dia menempatkan makhluk-makhluk-Nya di tempat yang ideal dan memberikan kepada mereka kebebasan untuk mengambil bagian dalam semua kemuliaan tatanan yang diciptakan. Tetapi anggaplah Allah memberikan satu pembatasan kecil pada mereka dan memperingatkan bahwa jika mereka melanggarnya, mereka akan mati. Apakah Allah semacam ini memiliki hak untuk memberikan pembatasan yang hukumannya adalah hilangnya karunia kehidupan jika kekuasaan-Nya dilanggar?
Andaikan karena alasan yang tidak benar makhluk-makhluk yang tak tahu berterima kasih ini tidak menaati pembatasan tersebut pada saat Allah tidak melihat mereka. Andaikan ketika Allah mengetahui pelanggaran tersebut Dia tidak membunuh, melainkan menebus mereka. Andaikan keturunan dan para pelanggar pertama semakin tidak taat dan memusuhi pencipta mereka sehingga seluruh dunia memberontak terhadap Allah,dan masing-masing orang di dalamnya “berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri” (Hakim-Hakim 21:25). Andaikan Allah masih bertekad untuk menebus mereka dan secara cuma-cuma memberikan karunia khusus kepada satu bangsa sehingga melalui mereka seluruh dunia akan diberkati. Andaikan Allah membebaskan mereka dan kemiskinan dan perbudakan FiraunMesir yang kejam. Andaikan bangsa yang istimewa ini, setelah dibebaskan, memberontak lagi terhadap Allah dan orang yang membebaskan mereka. Andaikan mereka menerima hukum Allah tetapi terus menerus melanggarnya.
 Andaikan Allah, yang masih ingin melakukan penebusan, mengirimkan pembawa pesan atau nabi-nabi yang secara khusus diberkati untuk meminta agar umat-Nya kembali kepada-Nya. Andaikan umat tersebut membunuh para pembawa pesan ilahi dan mengejek pesan mereka. Andaikan umat tersebut kemudian mulai menyembah berhala-berhala dan batu dan barang-barang yang mereka buat sendiri. Andaikan umat ini menciptakan agama yang bertentangan dengan kebenaran Allah yang nyata dan menyembah makhluk selain Pencipta.
Andaikan sebagai puncak penebusan-Nya Allah sendiri melakukan inkarnasi melalui pribadi Anak-Nya. Andaikan Anak ini datang ke dalam dunia bukan untuk menghukum dunia, melainkan untuk menebusnya. Tetapi andaikan Anak Allah ini ditolak, difitnah, diejek, disiksa, dan dibunuh. Walaupun demikian, andaikan Allah menerima pembunuhan anak-Nya itu sebagai hukuman atas dosa dan orang-orang yang membunuh-Nya. Andaikan Allah memberikan pengampunan penuh kepada para pembunuh Anak-Nya, damai melampaui segala akal yang terjadi karena penyucian semua kesalahan, kemenangan atas kematian dan hidup kekal yang penuh dengan kebahagiaan.
Andaikan Allah memberikan janji akan kehidupan masa datang yang tanpa kepedihan, penyakit, kematian, dan air mata kepada mereka secara cuma-cuma. Andaikan Allah berkata kepada mereka, “Hanya satu hal yang Kuminta. Aku minta agar kalian menghormati Anak-Ku satu-satunya dan menyembah dan melayani-Nya saja.” Andaikan Allah melakukan semua itu, apakah Anda akan berkata kepada-Nya, “Itu tidak adil, Allah, yang Kau lakukan belum cukup”?
Jika dalam kenyataannya manusia telah melakukan pengkhianatan yang sangat besar terhadap Allah, mengapa kita berpikir Allah harus memberikan jalan penebusan? Melihat pemberontakan alam semesta terhadap Allah, sesungguhnya masalahnya bukanlah mengapa hanya ada satu jalan, melainkan mengapamasih ada jalan? Saya sungguh tidak mengetahui jawaban dan pertanyaan tersebut.
Mengapa Orang Kristen Mengatakan Kristus adalah Inkarnasi Allah?  
Pada inti kekristenan terdapat pribadi dan karya Yesus Kristus. Pribadi dan karya-Nya merupakan bagian dan Inti kekristenan. Dalam pribadi dan karya-Nya itulah inti kekristenan dapat ditemukan. Baik dalam pribadi maupun karya-Nya kita mendapatkan unsur-unsur yang sangat unik. Orang Kristen menyatakan bahwa dalam pribadi Yesus dari Nazaret itulah kita mendapatkan inkarnasi Allah. Budha tidak pernah menyatakan diri sebagai lebih dari manusia biasa. Musa dan Konfusius adalah manusia. Jika Kristus memang merupakan inkarnasi Allah, maka memberikan penghormatan yang sama kepada Dia dan tokoh-tokoh lainnya merupakan ejekan terhadap keadilan. Melakukan hal ini berarti kita harus memberikan atribut ilahi kepada manusia yang akan mati atau melucuti Kristus dan sifat-Nya yang ilahi.
Dalam pernyataan kekristenan tentang kebenaran, kita melihat gagasan mengenai ketidakberdosaan Kristus. Jika Yesus memang benar-benar tanpa dosa, ini akan menempatkan-Nya dalam kelompok tersendiri. Jika la tidak memiliki keunikan lain, satu faktor ini akan membedakan-Nya dan pemimpin agamamana pun yang pernah dikenal oleh dunia. Walaupun menyatakan sesuatu tidak dengan sendirinya membuat pernyataan itu benar, fakta tentang Yesus yang menyatakan diri tak berdosa merupakan hal yang penting. Pernyataan ini menimbulkan pertaruhan agama. Jika pernyataan ini benar, maka keunikan Yesus menjadi pasti. Jika pernyataan ini tidak benar, maka Yesus tidak memenuhi syarat untuk menjadi salah satu guru agama yang besar. la hanya pantas menjadi seorang munafik dan tabib palsu.
Pernyataan kebangkitan sangat penting bagi kekristenan. Jika Kristus telah dibangkitkan dan kematian oleh Allah, maka la memiliki ‘surat kepercayaan’ yang tidak dimiliki para pemimpin agama lainnya. Semua pemimpin agama lain sudah mati. Tetapi menurut pernyataan kebenaran dan kekristenan, Kristushidup. Jika Kristus telah terbukti kebangkitan-Nya, maka keunikan-Nya sebagai sasaran pengabdian agama dapat diakui.
Dimensi lain dan keunikan Kristus yang penting bagi kekristenan adalah karya penebusan-Nya. Musa dapat menjadi perantara hukum; Budha dapat memberikan bimbingan pribadi; Konfusius dapat memberikan perkataan-perkataan yang bijaksana; tetapi tidak satu pun dari mereka dapat memberikan penebusan terhadap dosa-dosa dunia.
Bukan hanya kebangkitan Kristus yang membuat-Nya unik, melainkan juga kematian-Nya yang menempatkan-Nya dalam kelompok tersendiri Kematian-Nya terjadi untuk menebus dosa-dosa manusia. Pengorbanan-Nya sempurna. Di sini kita melihat kaitan langsung antara keunikan pribadi-Nya, ketidakberdosaan-Nya, kematian-Nya yang menebus, dan kebangkitan-Nya. Semua faktor ini menggambarkan Anak tunggal Bapa.
Adalah kesalahan yang fatal jika kita asumsikan bahwa Allahberkenan akan ‘agama”. Kata-kata klise yaitu “tidak masalah apa yang Anda percaya asalkan Anda sungguh-sungguh” sangatmenghancurkan. Kita bisa benar-benar salah dan kehilanganjalan penebusan yang ditawarkan oleh Allah. Apa yang kitapercaya dan kepada siapa kita percaya akan menimbulkanperbedaan yang sangat besar pada nasib kita. “Agama” mungkinakan menjadi pengganti kebenaran; sistem yang dibuat manusiauntuk menyimpangkan pernyataan Allah.
Hanya Kristus yang patut mendapatkan pengabdian danpelayanan sepenuhnya. Seluruh keberadaan-Nya membedakan-Nya dari semua orang yang berpura-pura memiliki hak atastakhta-Nya. Hanya Kristus yang mampu menebus. Hanya Kristusyang layak disembah.
Pernyataan kebenaran Kristen yang eksklusif harus selalu didasarkan pada keunikan Kristus. Orang Kristen tidak luput dari kesombongan dan kefanatikan. Tetapi kesombongan dan kefanatikan tidak sesuai dengan Kristus. Kritikan Kristus terhadap kebiasaan yang jahat ini lebih keras daripada yang diucapkan oleh setiap pengritik kekristenan. Pada saat yang sama, Dia yang sangat mengecam kesombongan dan kefanatikan ini memanggil kita untuk mengabdi sepenuhnya pada kebenaran. la menyatakan diri-Nya sebagai kebenaran itu.
Pokok-pokok untuk Diingat
Apakah semua agama baik? Apakah menjadi masalah agama apa yang Anda percaya?
  1. Toleransi agama tidak berarti semua agama itu benar. Pernyataan kebenaran yang eksklusif berakar dalam kebudayaan kita. Kita harus mengingat perbedaan antara toleransi agama sebagai masalah hak hukum dan konsep pernyataan kebenaran yang memiliki keabsahan yang sama. 
  2. Bukti objektif, dan bukan kesombongan, harus menjadi dasar pernyataan kebenaran Kristen. Orang Kristen harus berjaga-jaga agar tidak menimbulkan kesan sombong dalam menyampaikan keyakinan mereka. KeunikanKristus harus dinyatakan atas dasar bukti yang objektif dan bukan pilihan pribadi. 
  3. Semua agama tidak mengajarkan hal yang sama, tetapiberbeda dalam hal-hal pokok. Usaha untuk membuat semua agama “pada dasarnya sama” menimbulkan masalah reduksionisme yang serius, yaitu memperkecil masalahnya menjadi pengertian umum yang luas. “Analogi gunung” mengaburkan perbedaan yang nyata dan penting antara agama-agama di dunia. 
  4. Keunikan Kristus dan pernyataan-Nya sendiri yang eksklusif merupakan Inti permasalahan. Untuk memahami keunikan ini, kita harus memahami seluruh pola sejarah Alkitab. Jika sejarah Alkitab itu benar, maka kita tidak dapat beranggapan bahwa Allah “belum berbuat cukup banyak” untuk memberikan penebusan bagi kita. 
  5. Berdasarkan sejarah Alkitab, mudah bagi kita untuk melihat mengapa hanya ada “satu jalan”. 
  6. Walaupun dunia dalam kenyataannya terus-menerus memberontak terhadap-Nya, Allah telah memberikan jalan penebusan. Masalah penebusan yang utama adalah pertanyaan mengapa Allah masih bersedia memberikan jalan penebusan bagi kita. Kebenaran yang sangat indah adalah walaupun kita tidak layak mendapatkannya, didalam Kristus “oleh darah-Nya kita beroleh penebusan ...menurut kekayaan kasih karunia-Nya” (Efesus 1:7).

Sumber: R. C. Sproul, Mengapa Percaya (Malang: SAAT Malang, cet. ke-4, 2003), hlm.25-36.


Baca dan miliki juga file ini yang dibuat dalam bentuk pdf disini
»»  Lanjutkan Membaca...........